Selasa, 11 Juni 2013

BONO TELUK MERANTI SAMPAI KE AMERIKA

Di Amerika, Film Surfing
Bono Juara III Dunia

Para peselancar ikut menghadiri
acara adat yang digelar masyarakat
Kuala Kampar, beberapa waktu lalu.

Foto: panduk pos

GELOMBANG Bono, di Sungai
Kampar satu keunikan alam ini
hanya ada di Riau, khususnya di
Kabupaten Pelalawan dan
Kabupaten Rokan Hilir (Rohil). Bono
merupakan nama yang diberikan
oleh masyarakat Teluk Meranti,
Pelalawan kepada gelombang yang
berarti bemar yang terkategori Tidal
Bore, yaitu fenomena hidrodinamika
yang terkait dengan pergerakan
massa air, dimana gelombang
pasang menjalar menuju ke hulu
dengan kekuatan yang bersifat
merusak.
Setelah difilmkan, maka gelombang
bono di Sungai Kampar berhasil
meraih juara III, dan di Bali film
gelombang bono ini setiap
malamnya ditayangkan di cafe-cafe,
untuk menarik wisatawan datang ke
Teluk Meranti bermain selancar.
Penjelasan itu disampaikan Bupati
Pelalawan HM Harris, dimana-mana
kesempatan bertemu dengan tamu
yang datang ke Kabupaten
Pelalawan.
Pada masa lalu, di Riau Gelombang
Bono menjadi terkenal karena telah
cukup banyak memakan korban jiwa
dan merusakkan kapal-kapal yang
sedang melintasi bono, jika harus
berpapasan tanpa mampu
menghindarinya. Selama itu, cerita-
cerita yang berkembang di
masyarakat menggambarkan bono
hanya sebagai fenomena alam yang
mengerikan dan menakutkan.
Biasanya, tanggal 1 Muharram
merupakan bono terbesar yang
terjadi. Ketinggiannya pada satu
hari bulan ini bisa mencapai enam
meter. Tak tanggung-tanggung
derasnya air itu, semua material
apakah sampah, pohon kayu,
maupun pasir-pasir yang ada akan
habis disapunya menghalau ke
hulu.
Bono ini tidak setiap hari ada. Pada
waktu tertentu, munculnya bono ini
pada siang hari, pada waktu
tertentu pula ia akan muncul pada
malam hari dan pada waktu
tertentu pula ia akan muncul baik
siang dan malam hari.
Biasanya musim utara, bono besar
akan terjadi pada siang hari.
Sebaliknya pada malam hari tidak
akan ada bono. Kemudian saat
musim Selatan, Bono besar ini akan
terjadi pada malam hari dan
sebaliknya pada siang hari bono
yang akan kecil sementara saat
musim Barat bono akan terjadi
pada siang dan malam hari ini.
Gelombang bono yang pada suatu
ketika lalu menjadi momok yang
menakutkan, saat ini menjadi
kejadian yang ditunggu-tunggu
khususnya para penggemar surfing
(berselancar) dari berbagai negara
di belahan dunia. Para penggemar
surfing saat ini berbondong-
bondong datang ke Teluk Meranti
sekadar menikmati petualangan itu.
Kondisi ini secara tidak langsung
memberikan dampak positif bagi
masyarakat tempatan.
Untuk mencapai lokasi bono (Teluk
Meranti, Kabupaten Pelalawan)
dapat ditempuh dengan
menggunakan transportasi darat
dari Pekanbaru ke Pangkalankerinci
sekitar 70 kilometer dengan waktu
perjalanan dua jam. Kemudian
dilanjutkan perjalanan darat
menuju Teluk Meranti melalui
Kecamatan Bunut lebih kurang tiga
jam.
Selain itu perjalanan juga dapat
dilakukan menggunakan sarana
transportasi air, dari
Pangkalankerinci (Pelabuhan di
Jembatan Pangkalan Kerinci)
menggunakan speedboat ke
Kelurahan Teluk Meranti, Kecamatan
Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan
(lokasi terbaik untuk menyaksikan
bono) dengan waktu tempuh
perjalanan sekitar dua jam.
Sampai di Teluk Meranti jangan
khawatir tidak ada tempat
menginap. Di daerah itu ada
beberapa penginapan sederhana
yang bisa disewa. Begitu juga
dengan makan, tidak ada masalah
karena banyak tempat-tempat
makan dengan citarasa yang cukup
menggugah selera. Tarif kamarpun
masih terjangkau begitu juga
dengan harga makan.
Bono sendiri menurut legendanya
adalah makhluk ciptaan Allah SWT.
Masyarakat tempatan menyebutnya
dengan anjing laut. Masyarakatpun
sampai saat ini masih
mempercayainya.
Cerita lain yang berkembang adalah
bono yang ada di sungai Kampar
merupakan bono jantan sedangkan
bono yang berada di Sungai Kubu
merupakan bono betina. Pada
musim pasang mati, bono jantan
menemui bono betina untuk
mengajaknya bermain di Selat
Malaka.
Jika bulan mulai membesar mereka
masing-masing kembali ke tempat
asalnya, bono jantan mudik ke
Sungai Kampar dan bono betina
mudik ke Sungai Rokan. Semakin
sempurna bulan di langit semakin
kedua bono bergembira untuk
berpacu dengan dahsyat menuju
asalnya sehingga semakin menderu
dan bergemuruh sampai ke tempat
masing-masing.
Awal mulai munculnya bono ini
terjadi di sekitar Pulau Muda,
dorongan arus air dari hulu menuju
ke hilir disambut dengan air pasang
dari laut yang hendak menuju ke
aliran sungai. Pertemuan kedua
arus inilah yang menimbulkan
gelombang yang cukup dahsyat dan
sampai saat ini dikenal dengan
bono.
Courtesy: SurfersVillageTV
Master Plan Nasional
Bagi Riau pengembangan destinasi
wisata bono menjadi kewajiban
utama. Ini dikarenakan di dunia,
surfing di sungai dengan ketinggian
ombak 5-6 meter hanya ada dua di
dunia. Pertama, di Sungai Amazon
dan yang kedua di Sungai Kampar,
Teluk Meranti. Potensi ini jika
dikemas dengan baik akan
menguntungkan bagi Riau dan
Indonesia secara umum.
Kepala Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Riau H Said Syarifuddin
SE MP menyatakan, pemerintah
pusat telah merancang master plan
pengembangan pariwisata bono ini.
Ini sangat penting, karena
pengembangan objek wisata itu
harus dilakukan secara bersama-
sama antara Pemerintah Kabupaten
Pelalawan, Provinsi Riau maupun
pemerintah pusat (Jakarta).
Persoalan yang dihadapi sektor
pariwisata selama ini di Riau
memang pada infrastuktur. Dinas
Kebudayaan dan dan Pariwisata
tidak bisa bekerja sendiri dalam hal
ini. Seluruh stake holder harus
bahu membangun sarana dan
prasarana yang ada. Sebab, untuk
pembangunan infrastruktur seperti
jalan harus dilakukan stake holder
terkait.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Riau sendiri sudah melakukan
berbagai upaya guna
pengembangan pariwisata di Riau.
Tidak hanya pengembangan objek
wisata bono di Pelalawan akan
tetapi seluruh objek wisata lainnya
seperti Istana Siak, Candi Muara
Takus, Pantai Pulau Rupat dan
sebagainya. Upaya-upaya promosi
terhadap objek wisata ini terus
dilakukan.
Gelombang Bono di Kabupaten
Pelalawan, Riau bakal menjadi icon
wisata Indonesia. Kementerian
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan
melakukan studi terhadap kelayakan
gelombang bono menjadi tempat
surfing tertinggi di dunia.
Sekretaris Jendral Pengembangan
Destinasi Wisata Kementerian
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI,
Achyaruddin mengungkapkan, studi
ini dilakukan kerja sama antara
pemerintah pusat (Jakarta),
Pemerintah Provinsi Riau dan
Pemkab Pelalawan.
Disebutkannya, di dunia ini memang
banyak lokasi surfing, namun lokasi
itu hanya berada di laut. Termasuk
di Indonesia. Di Indonesia ada
sekitar 23 lokasi surfing, semuanya
berada di laut. Namun untuk lokasi
surfing yang berada di sungai di
dunia ini hanya ada tiga masing-
masing di Brazil, Malaysia dan
ketiga di Kabupaten Pelalawan, Riau
(Indonesia).
Bayangkan itu, lokasi surfing yang
berada di sungai hanya ada tiga di
dunia. Ini sungguh luar biasa. Jika,
memang ketinggiannya melebihi
dari ketinggian yang di Brazil dan
Malaysia, dirinya berkeyakinan
dalam waktu sekejap sejumlah
peselancar dunia akan datang ke
Pelalawan, khususnya ke Teluk
Meranti.
Pariwisata surfing ini harus
dikembangkan, mengapa? Karena,
Pulau Bali sebelumnya tidak ada
apa-apanya, namun setelah
sejumlah peselancar melakukan
surfing, akhirnya Bali sangat
terkenal di seluruh dunia.
Dampaknya, bisa dilihat sekarang,
bagaimana perkembangan Bali.
Apapun yang diminta Provinsi Bali,
pemerintah pusat selalu
menyetujuinya.
‘’Saya punya keinginan besar, kelak
pariwisata Bono ini bisa menjadi
wisata andalan. Dari segi keunikan,
sebenarnya dia sudah bisa dijual.
Tapi kita lihat nantilah, jika
memang hasil studi itu nanti
menyebutkan, Bono ini layak jual,
dia akan kita jadikan icon wisata
Indonesia,’’ ujarnya.
Mernurut Bupati Pelalawan HM
Harris, gelombang bono terletak di
Kecamatan Teluk Meranti,
Kabupaten Pelalawan adalah alunan
gelombang besar yang terjadi
bersamaan dengan pasang naik dan
pasang surut dengan ketinggian
puncak gelombangnya mencapai
empat sampai enem meter.
Rentangan gelombang tersebut
hampir selebar Sungai Kampar.
Gelombang ini terjadi akibat
benturan tiga arus air, yang berasal
dari Selat Malaka, Laut Cina Selatan
dan aliran air Sungai Kampar yang
berbenturan di muara Sungai
Kampar dengan menimbulkan
gelombang besar yang menggulung
dan menghempas jauh ke dalam
sungai sehingga dapat menggulung
menenggelamkan perahu serta
kapal-kapal, baik kapal besar
maupun kecil. Fenomena alam ini
merupakan satu-satunya di
Indonesia.
Ditambahkan Bupati, menurut
lagenda konon bono ini mulai
terjadi tahun 1615 M, saat itu
Sungai Kampar masih bernama Laut
Embun, dimana tebing Sungai
Kampar saat itu Pangkalan Malako,
Pangkalan Panduk dan Pangkalan
Bunut, Ketinggian Bono semasa itu
bias mencapai enam sampai tujuh
meter, namun saat ini gelobang
bono ini menjadi daya tarik para
peselancar manca negara untuk
menaklukkannya di awal tahun 2010.
Di antaranya peselancar dari
Perancis, Jerman, Amerika, Itali,
Australia, Afrika Selatan, Cina
Singapura dan Indonesia.
Kelebihan dan Keunikan Bono
Gelombang bono terjadi di perairan
sungai dengan jarak tempuh 30
kilometer. Para peserta dapat
merasakan sensasi di antas papan
selancar, satu sampai satu setengah
jam. Gelombang bono tidak terjadi
setiap saat tetapi pada waktu
tertentu, gelombang bono memiliki
tujuh gelombang yang berbeda
kedahsyatannya. Oleh para
peselancar mancanegara disebut
Seven Ghost .
Menurut lagenda lainnya, konon
bono di Sungai Kampar adalah bono
jantan, sedangkan bono betinanya
berada di Sungai Rokan. Bono di
Sungai Kampar dulunya berjumlah
tujuh ekor dan yang satunya
ditembak oleh Belanda sehingga
yang tinggal sekarang hanya enam
ekor, dimulai pasang mati bono ini
pergi menuju betinanya di Sungai
Rokan, kemudian bercengkrama di
Selat Malaka. Apabila pasang mulai
membesar arus pasangan semakin
gembira mereka berpacu memudiki
sungai.
Bagi masyarakat tempatan yang
sudah biasa dengan kedatangan
bono dan bernyali besar,
kedatangan bono disambut dengan
memacukan kapal motornya,
meluncur ke lidah ombak di
punggung bono, bagaikan pemain
selancar, aktraksi ini oleh penduduk
tempatan bagaiakan pemain
selancar. Atraksi ini oleh penduduk
tempatan disebut ‘Bekudo Bono’
karena mirip dengan aktraksi
dengan seorang joki yang sedang
berusaha menjinakkan kuda liar.
Bono ini dapat dilihat pada setiap
bulan pada saat terjadi pasang
besar namun pada akhir tahun atau
pada musim barat bono akan
terjadi lebih besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar