Selasa, 11 Juni 2013

Bono teluk meranti aset kabupaten pelalawan.

Menyusuri Perkampungan
Sepanjang Kuala Kampar
Bono, Tameng Pembuka
Isolasi

20 Mai 2012 - 07.47 WIB > Dibaca
812 kali

Aksi para peselancar asing di atas
gelombang bono di Kuala Kampar
beberapa waktu lalu. Kini bono
telah dikenal di serantau Asia dan
Eropa. (Foto: PANDUK POS)

Munculnya gelombang bono dari
Pulau Muda membuat tersohornya
Kuala Kampar di Teluk Meranti dan
Kabupaten Pelalawan hingga ke
mancanegara. Ini disebabkan
tingginya gelombang bono tersebut
mengalahkan tingginya gelombang
di Kuala Sungai Amazon.
SPEEDBOAT bermuatan sekitar 60
orang siap menanti puluhan orang
yang bakal berangkat menuju Kuala
Sungai Kampar. Atau sering disebut
Kuala Kampar. Satu per satu
penumpang masuk ke dalam
lambung terbuat dari fiber melalui
pintu depan. Memakan waktu
kurang lebih 20 menit akhirnya
semua penumpang sudah mengisi
seat yang ada di dalam speedboat.
Speedboat yang biasa mengangkut
penumpang menuju Tanjung Batu
yang merupakan salah satu pulau
yang terletak di depan muara
Sungai Kampar tersebut. Saat itu
speedboat tak langsung berjalan,
namun anak buah kapal (ABK) sibuk
meminta mengurangi muatan.
Pasalnya saat itu jumlah
penumpang yang mengiringi
perjalanan Bupati Kabupaten Rokan
Hilir (Rohil) H Annas Maamun dan
Bupati Pelalawan HM Haris sangat
ramai. Akhirnya saat itu diputuskan
untuk menurunkan penumpang
lebih dari 10 orang. Akhirnya
dengan cekatan ABK membuka tali
yang tertambat di pancang
pelabuhan, dan saat itu juga kapten
melaju dan memutar haluan
mengikuti arus Sungai Kampar di
depan Pelabuhan Pangkalankerinci.
Speedboat dilengkapi dengan tiga
mesin tempel merek Yamaha ini
dengan cekatan membelah air
Sungai Kampar. ‘’Jika tak ada
halangan perjalanan kita ini
memakan waktu 2,5 jam. Terkadang
kalau tak ada singgah-singgah kita
bisa mencapai Teluk Meranti dua
jam lewat seperempat,‘’ kata Busri
Habizar salah seorang penumpang
speedboat kepada Riau Pos.
Speedboat yang ditumpangi Riau
Pos, terus melaju dan satu per satu
ponton pengangkut kayu chip milik
perusahaan kayu di tengah Sungai
Kampar terlewatkan. Begitu juga
piau, perahu dayung dan pompong
nelayan terlihat terombang ambing
terkena gelombang yang
ditimbulkan speedboat.
Setelah berjalan dengan kecepatan
tinggi sekitar 1 jam perjalanan
mulai terlihat perkampungan-
perkampungan yang indah dan
terlihat benar nuansa warga daerah
pesisir pantai dan sungai karena
rumah panggungnya. Ternyata
perkampungan pertama dilewati
speedboat, namun jumlah
pemukimannya tak begitu banyak.
Menurut Basri, perkampungan
tersebut bernama Sering. Kemudian
berjarak waktu kurang lebih 40
menit dari Sering, pemandangan
perkampungan luas di kanan tebing
Sungai Kampar terlihat indah. Pada
umumnya bangunan limas,
panggung dan berjinjang. Begitu
juga dengan pelabuhan yang
bermotif Melayu ditambah cat
berwarna hijau. ‘’Ini Kampung Tua
dan dari sinilah terciptanya nama
Kabupaten Pelalawan itu. Jadi inilah
Kampung Pelalawan itu,’’ jelas Basri.
Selang beberapa menit, Busri
melanjutkan pembicaraan. ‘’Dua
menit lagi kita bisa melihat bekas
Istana Sayap terbakar itu. Lihat itu
bekas istana terbakar, tu,’’ jelas
Busri dengan reaksi tangannya
menunjuk lokasi istana terbakar.
‘’Inilah pusat kerajaan dulu. Kita
berharap duplikat Istana Sayap bisa
berdiri lagi,’’ lanjutnya.
Menurut warga setempat, dulunya
untuk mencapai perkampungan di
kiri kanan Sungai Kampar tak bisa
ditempuhi melalui jalur darat. Akan
tetapi rata-rata menggunakan
perahu dan perahu layar. Tapi
zaman moderen sekarang bisa
menggunakan pompong dan juga
speedboat. ‘’Alhamdulillah
sekarang untuk menuju
perkampungan di pinggir sungai ini
sudah ada jalan darat. Walaupun
masih jalan tanah. Lama perjalanan
jika dari Pangkalan Kerinci ke Kuala
Kampar menggunakan mobil
memakan waktu kurang lebih 2,5
jam. Tapi jalannya masih jalan
tanah,’’ jelas Busri yang juga warga
Kuala Panduk yang berada di
pinggir Sungai Kampar tersebut.
Belasan perkampungan dan puluhan
dusun berdiri di sepanjang Sungai
Kampar ini. Jika dari hulunya,
terdapat Kuala Mesako, Rantau
Baru, Langgam kemudian baru
Pangkalankerinci. Namun untuk
daerah tersebut sudah bisa dilewati
melalui jalur darat dan jalannya
sudah bagus.
Namun untuk daerah yang masih
berharap agar jalan lintas bono
segera di aspal atau di-hot mix
tidak sedikit pula. Terutama di
sepanjang Sungai Kampar hingga
Kuala Kampar. Terutama
Perkampungan Sering, Pelalawan,
Tolam, Telawa Kandis, Sungai Ara,
Pangkalan Terap, Kuala Panduk,
Petodakar, Teluk Binjai, Teluk
Meranti, Pulau Muda, Gambut
Mutiara, Segamai, Labuhan Biling,
Sokoi dan Penyalai.  ‘’Dulu kata
orang kantong-kantong kemiskinan.
Alhamdulillah setelah dibuka jalan,
walaupun masih tanah, sekarang
warga sudah bisa menikmati
kemajuan,’’ lanjutnya.
Oleh sebab itu harapan besar
pengembangan perkampungan
melalui jalur transportasi darat
sangat membantu masyarakat. ‘’Kita
berharap Pemprov segeralah bangun
jalan lintas bono ini. Karena jalan
ini tembus ke Kabupaten Indragiri
Hilir,’’ tegasnya.
Bono Membuat Pelalawan Terkenal
Dulu, ombak bono atau gelombang
Sungai Kampar sebagai sosok yang
menakutkan, tetapi kini justru
menjadi wisata andalan bagi
Pelalawan dan juga Provinsi Riau.
Bono biasanya terjadi pada setiap
tanggal 10-20 bulan Melayu atau
tahun Arab yang biasa disebut
penduduk sebagai “bulan besar”
atau bulan purnama. Biasanya
gelombang bono atau ombak bono
yang besar terjadi pada tanggal
13-16 hari bulan. Gelombang yang
terjadi biasanya akan berwarna
putih dan coklat mengikut warna air
Kuala Kampar. Selain itu, bono juga
terjadi pada setiap bulan mati yaitu
akhir bulan dan awal bulan (tanggal
1) penanggalan Arab.
Lokasi ombak bono atau gelombang
bono Sungai Kampar dapat kita
jumpai di Sungai Kampar Kecamatan
Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan.
Ada beberapa titik yang biasa
digunakan masyarakat sekitar untuk
melihat ombak bono salah satunya
adalah Tanjung Bebayang atau
Tanjung Bayang-Bayang.
Di Tanjung Bebayang ini Pemerintah
Kabupaten Pelalawan telah
menyediakan sebuah pondok untuk
masyarakat yang ingin menikmati
gelombang bono. Konon, katanya, di
Tanjung Bebayang ini terdapat
sebuah istana yang megah dan
cantik, namun istana ini tidak dapat
dilihat dengan kasat mata, istana
ini merupakan istana makhluk halus
yang dikenal dengan nama Bunian.
Ombak bono atau gelombang bono
(bono wave) terjadi ketika saat
terjadinya pasang (pasang naik)
yang terjadi di laut memasuki
Sungai Kampar. Kecepatan air
Sungai Kampar menuju arah laut
berbenturan dengan arus air laut
yang memasuki Sungai Kampar.
Benturan kedua arus itulah yang
menyebabkan gelombang atau
ombak tersebut. Bono akan terjadi
hanya ketika air laut pasang. Dan
akan menjadi lebih besar lagi jika
pada saat air laut mengalami
pasang besar (bulan besar) diiringi
hujan deras di hulu Sungai Kampar.
Derasnya arus sungai akibat hujan
akan berbenturan dengan derasnya
pasang air laut yang masuk ke Kuala
Kampar. Awal akan terjadinya ombak
bono diawali dengan bunyi
gemuruh air. Bunyi gemuruh ini
semakin lama akan semakin keras
diiringi dengan besarnya gelombang
bono. Kecepatan gelombang obono
mencapai 40 km/jam.
Tinggi gelombang bono tersebut
mencapai 6 meter. Bahkan
gelombang bono mampu
menyebabkan banjir beberapa saat.
Biasanya perkampungan di sekitar
tepi Sungai kampar akan digenangi
air lebih kurang 1 jam dan
ketinggian air menggenangi
kampung tersebut mencapai tinggi
lutut orang dewasa. ‘’Nasiblah air
mati, tak ado Bono. Kalaupun ado
pada malam hari sekarang ini,” kata
Busri kepada Riau Pos saat itu.
Untuk mencapai lokasi bono ini
(Sungai Kampar Kecamatan Teluk
Meranti, Kabupaten Pelalawan), dari
Pekanbaru Ibu Kota Provinsi Riau
terlebih dahulu kita menuju
Pangkalankerinci Ibu Kota
Kabupaten Pelalawan. Perjalanan
menuju Pangkalankerinci dapat
dilakukan melalui jalur darat
dengan jarak tempuh sekitar 70 Km
atau 2,5-3 jam perjalanan karena
masih jalan tanah.
Alat transportasi umum yang bisa
digunakan adalah travel atau biasa
disebut dengan superben. Biaya
perjalanan dari Pekanbaru menuju
Pangkalankerinci sebesar Rp20.000.
Kemudian dari Pangkalankerinci
menuju Teluk Meranti bisa
menggunakan mobil rental atau
mobil sewaan dengan tarif Rp50.000
per orang dan terminal mobil rental
ini terdapat di Hotel Meranti
Pangkalankerinci.
Perjalanan dari Pangkalankerinci ke
Teluk Meranti dapat ditempuh
dengan waktu 3 jam. Selain itu
perjalanan juga dapat dilakukan
menggunakan sarana transportasi
air, dari Pangkalankerinci
(pelabuhan di jembatan
Pangkalankerinci) kita bisa
menggunakan speedboat ke Desa
Teluk Meranti dengan waktu tempuh
perjalanan sekitar 3 jam dengan
biaya perjalanan Rp150.000.
Kampung Wisata Teluk Meranti
Dengan adanya gelombang bono
dan para turis berselancar di atas-
atas gelombang bono, membuat
Teluk Meranti menjadi tersohor.
Bahkan dengan adanya perhatian
serius dari Bupati Pelalawan dan
Kementerian Pariwisata RI, maka
perkampungan Teluk Meranti
menjadi satu perkampungan Sadar
Wisata.
‘’Jadi Kuala Kampar menjadi tempat
atau Kampung Wisata. Kemudian
masyarakatnya diberikan
pemahaman tentang sadar wisata.
Jadi merekalah mengelola
perkampungan itu menjadi tempat
wisata dan bisa memberikan
penghasilan cukup memajukan
daerah,’’ Jelas Direktur
Pemberdayaan Masyarakat,
Direktorat Jendral (Dirjen)
Pengembangan Destinasi Pariwisata
Kementrian Pariwisata, Drs Bakri.
Paling tidak dengan terbentuknya
Desa Sadar Wisata tersebut,
pemerintah tinggal memberikan
ceramah atau pemberdayaan
terutama untuk meningkatkan
partisipasi masyarakat.
‘’Bono ini sudah terkenal di manca
negara. Bahkan kita sudah berupaya
mengajukan sebagai salah satu
keajaiban dunia. Di dunia ada dua,
di Indonesia di Kuala Kampar dan
Sungai Amazon yang ombaknya tak
setinggi di Kuala Kampar
Indonesia,’’ tegasnya.
Untuk Riau sendiri, desa yang bakal
mendapat pemberdayaan untuk
peduli wisata atau disebut desa
wisata terdapat 28 desa. Yang
tersebar di antaranya Kabupaten
Bengkalis, Pelalawan, Rohil dan
beberapa kabupaten/kota lainnya.
‘’Kita berharap desa-desa wisata ini
bisa menjadi kenyataan dan bisa
berkembang sendirinya dengan
peran serta masyarakat,’’ ucap Bakri.
Pemkab Siapkan
Infrastruktur
Bupati Pelalawan HM Haris
menegaskan bahwa setiap
kabupaten diberikan kesempatan
mengembangkan wisatanya masing-
masing. ‘’Motivasi inilah membuat
saya memperkenalkan bono di
Indonesia hingga ke manca negara.
Setiap ada kesempatan saya
perkenalkan bono. Makanya wisata
Bono ini banyak didatangi warga
asing seperti Prancis, Australia dan
negara Eropa lainnya,’’ jelas Harris.
Menurut dia, berbagai fasilitas
untuk pengembangan pariwisata
terus dilakukan pemerintah
kabupaten. Terutama menyiapkan
berbagai fasilitas pendukung seperti
penginapan, transportasi darat dan
air.
‘’Transportasi kunci untuk
pengembangan pariwisata. Jika
transportasi mudah, maka semakin
terjangkaulah tempat wisata itu.
Karena transportasi baik dan
penginapan ada, makanya para
wisatawan manca negara tiba di
Kuala Kampar,’’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar